Gelombang protes dan aksi penyegelan gerbang kampus UIN Sunan Ampel Surabaya dipastikan akan terus berlanjut hingga pakta tuntutan mahasiswa diakomodasi sepenuhnya oleh pihak birokrasi sebagaimana yang diungkapkan dalam konferensi pers perwakilan Organisasi Mahasiswa UINSA di Gedung Rektorat (23/9). Fokus utama perjuangan mahasiswa mencakup reformasi tata kelola, pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), serta pencabutan aturan pembatasan di dalam kampus.
Dalam pemaparannya, Fadzlurrahman Fazle selaku perwakilan Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas menegaskan bahwa tuntutan ini lahir dari krisis manajerial yang sudah terakumulasi.
"Menghindari segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme di lingkungan sivitas akademika UIN Sunan Ampel Surabaya, serta memperbaiki seluruh sistem... dan cabut pembatasan seluruh kegiatan di lingkungan kampus," tegas Fazle di hadapan awak media.
Salah satu kebijakan yang didesak untuk segera dievaluasi adalah aturan jam malam. Menanggapi kekhawatiran pihak luar terkait isu keamanan malam hari di Surabaya seperti maraknya klitih dan gangster, mahasiswa menilai pembatasan di dalam kampus tidak proporsional dan justru mematikan ruang gerak akademik maupun keorganisasian.
"Karena proporsionalitas kegiatan kemahasiswaan, termasuk kebutuhan dari kegiatan akademik dan kemahasiswaan, harus menjadi pertimbangan. Bagaimana kemudian nanti kebijakan jam malam ini akan dicabut," jelas Fazle. Ia menambahkan bahwa aspek pengawasan berbasis kamera keamanan (CCTV) di lingkungan kampus seharusnya bisa menjadi alternatif pengamanan yang lebih baik ketimbang menerapkan jam malam.
Terkait aksi penyegelan kampus yang memicu pro dan kontra karena dinilai menghambat mobilitas dosen dan aktivitas perkuliahan normal, pihak mahasiswa memberikan klarifikasi. Mereka menegaskan bahwa penyegelan tersebut adalah bentuk tekanan terukur terhadap birokrasi, namun mereka tidak menutup akses sepenuhnya bagi pihak-pihak yang memiliki urgensi.
"Kami juga membutuhkan akses untuk pihak-pihak yang ingin melakukan kegiatan terhadap dosen. Terlebih ini, kami juga membuka ruang untuk melakukan kegiatan bagi yang ingin menyelesaikan pekerjaannya, pekerjaan yang penting," pungkas Fazle.
Ke depan, aliansi mahasiswa UINSA berencana melayangkan surat audiensi terbuka secara formal kepada pimpinan atau calon rektor baru untuk memastikan seluruh poin tuntutan reformasi internal ini dikawal hingga tuntas.
Penulis: Zidan As'ad
