Bulan Agustus selalu menjadi momen
yang paling ramai di kampus. Suara mahasiswa yang penuh semangat, yel-yel
penugasan yang seru, hingga acara konser musik penyambutan seakan menjadi menu
wajib tahunan. Setelah liburan panjang kampus kini kembali ramai. Namun,
dibalik semua keseruan itu, ada sebuah video yang sempat viral di media sosial
baru-baru ini. Video tersebut memperlihatkan sekelompok mahasiswa yang asyik
berjoget liar di sebuah area pendopo kampus.
Video itu langsung memicu perdebatan
ramai di kalangan netizen. Ada sebagian orang yang membela karena menganggap
itu hal biasa dan merupakan bentuk ekspresi kesenangan anak muda dalam melepas
penat. Tapi di sisi lain, banyak juga kritik tajam bermunculan dari masyarakat.
Pendopo dalam tradisi kita sebenarnya bukan sekadar lantai bangunan biasa.
Tempat itu adalah ruang budaya yang penuh dengan nilai kesopanan dan
kehormatan. Mengubah pendopo menjadi arena joget liar tanpa batas dianggap
kurang pas karena tidak sesuai dengan tempatnya.
Kejadian ini sebenarnya menjadi
contoh nyata dari tren anak muda zaman sekarang. Banyak yang terjebak rasa
takut ketinggalan tren atau biasa disebut "fomo". Hanya demi membuat konten media
sosial dan hiburan sesaat, batasan kesopanan kadang diabaikan begitu saja.
Sebagai mahasiswa, kita semua
dituntut untuk memiliki kepedulian yang lebih tinggi terhadap lingkungan
sekitar. Kampus memang memberi kebebasan penuh untuk berekspresi. Namun, kebebasan
itu tentu harus tetap berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral yang
baik. Kalau sampai tidak bisa membedakan mana tempat untuk konser terbuka dan
mana tempat yang harus dihormati, di situlah kualitas berpikir kita sedang
diuji.
Menjadi mahasiswa yang kritis bukan
berarti harus menjadi orang kaku yang anti hiburan. Mahasiswa baru jelas
memiliki hak untuk merayakan lembaran baru dunia perkuliahan mereka dengan
gembira. Acara konser musik, pentas seni, atau panggung bebas adalah hal yang
wajar-wajar saja untuk diramaikan bersama. Namun, poin utamanya adalah seorang
mahasiswa harus tahu kapan waktunya bisa bersenang-senang dengan bebas dan
kapan waktunya harus bersikap sopan.
Fenomena viral ini harus menjadi
pelajaran berharga untuk kita semua, terutama mahasiswa di lingkungan Fakultas
Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Jangan sampai status mahasiswa
yang kita sandang hanya menjadi pajangan saja, sementara perilaku sehari-hari
justru melupakan nilai kesopanan, adab, dan budaya.
Sebentar lagi keseruan awal semester
ini akan mereda karena jadwal kuliah mulai padat. Pada akhirnya, semua kembali
ke diri masing-masing untuk merenungkan, apakah kita datang ke kampus ini untuk
belajar dan menjaga sopan santun, atau cuma mau ikut ramai dalam barisan
pembuat konten demi mencari perhatian di media sosial.
Penyunting: Zidan As'ad