Mahasiswa UINSA Gelar Aksi, Desak Rektor Muzakki Turun dari Jabatan

0


Gambar: LPM Qimah

Sejumlah mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat sebagai bentuk protes terhadap pengangkatan Akh. Muzakki yang kembali ditunjuk menjadi Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya Periode 2026-2030. Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa delapan tuntutan dengan tuntutan utama agar Akh. Muzakki turun dari jabatannya.

Koordinator lapangan aksi, Maftuch Fuadi, mengatakan bahwa tujuan utama aksi adalah meminta Akh. Muzakki menemui massa dan memberikan penjelasan terkait tuntutan yang disampaikan mahasiswa. Menurutnya, upaya masuk ke Gedung Rektorat merupakan pilihan terakhir setelah pihak rektorat dinilai belum menemui massa.

“Sebenarnya dalam perencanaan aksinya kemarin kita cuma ingin Prof. Muzakki itu turun lalu datang menemui massa dan memberikan penjelasan terkait tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh teman-teman,” ujar Maftuch.

Ia menjelaskan, mahasiswa masih menunggu keputusan terkait langkah aksi selanjutnya. Aksi susulan, menurutnya, tetap akan dilakukan apabila Akh. Muzakki belum menemui mahasiswa. Kemungkinan mahasiswa bertahan di area Rektorat juga masih bergantung pada situasi dan keputusan koordinator aksi.

Wisnu (nama samaran) menyebut mahasiswa membawa konsep tuntutan “1+7”. Tuntutan utama adalah meminta Prof. Muzakki turun dari jabatan, sementara tujuh tuntutan lainnya berkaitan dengan sejumlah persoalan yang dinilai menjadi keresahan mahasiswa.

Salah satu persoalan yang disampaikan adalah belum keluarnya almamater dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Mahasiswa memberikan tenggat waktu 7×24 jam untuk penyelesaian persoalan tersebut. Selain itu, mahasiswa juga menyoroti pengalihfungsian gedung auditorium dan Student Center (SC) yang disebut disewakan untuk umum.

“Yang pertama yang pasti jelas: turunkan Muzakki. Dan ke-7 poin-poin aspek-aspek yang bisa mendukung untuk menurunkan Muzakki,” ungkap Wisnu.

Wisnu juga menilai pengangkatan kembali Prof. Muzakki menjadi Rektor perlu dipersoalkan karena masa kepemimpinannya akan berlangsung selama empat tahun. Ia mengatakan aksi dilakukan sebagai bentuk penyampaian suara mahasiswa terkait arah kampus ke depan.

Situasi pada lingkungan demonstrasi mulai memanas berdampingan dengan api yang dipantik menggunakan beberapa bahan di depan pintu Gedung Rektorat. Salah seorang demonstran menyebut pembakaran bahan-bahan ditambah suara kendaraan yang dilakukan dalam aksi sebagai ekspresi ketidaknyamanan terhadap kondisi yang mereka persoalkan. Ia mengatakan aksi tersebut bukan dilakukan secara spontan, melainkan telah melalui proses konsolidasi antarmahasiswa dari berbagai fakultas.

“Semua aktivitas yang kita lakukan, entah pembakaran dari bahan-bahan yang sudah ada, terus geber-geber sepeda motor, itu semua bentuk protes dari kita,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah, Muhammad Fachri Dzulfaqar menyampaikan keresahannya terkait pengangkatan kembali Akh. Muzakki. Ia menilai terdapat sejumlah program pada periode sebelumnya yang menurutnya belum berjalan sebagaimana mestinya.

Fachri mengatakan bahwa dirinya siap kembali mengikuti aksi apabila Prof. Muzakki belum turun dari jabatan. Ia berharap adanya pergantian kepemimpinan yang lebih dapat mengayomi mahasiswa.

“Ya harapannya mungkin satu Kak, Rektor Muzakki bisa turun dan digantikan dengan rektor yang lebih bagus lagi, lebih mengayomi lagi,” kata Fachri.

Berbeda dengan sejumlah mahasiswa yang secara tegas meminta Akh. Muzakki turun, Muhammad Ulul Azmi Ramadan dari Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir menyampaikan pandangan yang lebih berhati-hati. Ia mengatakan dirinya belum lama berada di UINSA sehingga belum merasakan secara langsung kepemimpinan Prof. Muzakki pada periode sebelumnya.

Ulul juga menyinggung isu pungutan yang sebelumnya dikaitkan dengan Akh. Muzakki. Berdasarkan informasi yang ia dengar dan setelah menanyakan persoalan tersebut kepada dosen, ia mengatakan bahwa pungutan yang dimaksud disebut dilakukan secara sukarela. Namun, ia memilih melihat perkembangan kepemimpinan Prof. Muzakki ke depan sebelum menentukan tanggapannya.

Menurut Ulul, persoalan kepemimpinan dapat dinilai berdasarkan perkembangan yang terjadi setelah Prof. Muzakki kembali menjabat. Jika muncul persoalan baru, ia mengatakan perlu dicari cara untuk menyelesaikannya. Sebaliknya, jika kondisi kampus membaik, ia berharap hal tersebut dapat disyukuri.

Aksi mahasiswa tersebut pada akhirnya menunjukkan adanya perbedaan pandangan di kalangan mahasiswa mengenai pengangkatan kembali Prof. Muzakki sebagai Rektor. Sebagian mahasiswa menyuarakan tuntutan agar terjadi pergantian kepemimpinan, sementara mahasiswa lainnya memilih menunggu dan melihat perkembangan kepemimpinan ke depan.

Reporter: Shidqi Rayhan Al-Maliki
Penulis: Indah Dian
Penyunting: Zidan As’ad

Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman anda! Learn More
Accept !