Aksi Mahasiswa UINSA Berlanjut, Massa Blokade Kampus dan Desak Kepastian Terkait Kepemimpinan Rektor

0
Gambar: LPM Qimah 

Aksi mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya kembali berlanjut dengan blokade di sejumlah akses kampus (21/9). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk desakan mahasiswa untuk mendapatkan kepastian terkait kepemimpinan Rektor Akh. Muzakki.

Koordinator lapangan aksi, Maftuch Fuad, mengatakan bahwa blokade mulai dilakukan sekitar pukul 06.30 WIB. Menurutnya, aksi akan terus dilakukan hingga Rektor UINSA menemui massa aksi dan memberikan kepastian atas tuntutan mahasiswa.

“Kita rencana memblokade ini sampai Prof. Muzakki turun atau beliau hadir di sini menemui para massa aksi. Itu target kita,” ujar Fuad.

Fuad menjelaskan, pada awal aksi mahasiswa masih memberikan akses kepada mahasiswa untuk masuk ke lingkungan kampus. Sementara itu, dosen dan tenaga kependidikan untuk sementara tidak diperkenankan memasuki kampus. Ia menyebut langkah tersebut dilakukan agar proses belajar mengajar dihentikan sementara sampai persoalan yang menjadi tuntutan mahasiswa memperoleh penyelesaian.

Menurut Fuad, mahasiswa juga meminta agar persoalan yang mereka persoalkan terkait kepemimpinan Prof. Muzakki dapat dibuktikan dan diklarifikasi secara langsung. Ia menilai kehadiran rektor untuk berdialog dengan mahasiswa menjadi salah satu jalan untuk menyelesaikan aksi.

“Kalau dia datang ke sini ya sudah selesai. Cuma nggak ke sini-sini,” kata Fuad.

Dalam wawancara tersebut, Fuad menyampaikan bahwa sejumlah dosen dan alumni disebut memiliki sikap yang tidak mendukung kepemimpinan Prof. Muzakki untuk periode berikutnya. Namun, ia mengatakan sebagian dosen memilih tidak menyampaikan sikapnya secara terbuka karena masih termasuk tenaga pengajar di lingkungan kampus.

Selain persoalan kepemimpinan rektor, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan lain. Fuad menyebut transparansi pengelolaan kampus sebagai salah satu hal yang dianggap mendesak. Ia juga menyoroti persoalan Uang Kuliah Tunggal (UKT), termasuk mekanisme penentuan kelompok UKT dan proses banding yang menurutnya masih perlu diperjelas.

“Kalau di bidang yang paling mendesak itu tentang transparansi pengelolaan kampus. Terus UKT yang tidak jelas bagaimana pertimbangannya,” ujar Fuad.

Fuad menegaskan bahwa tuntutan mahasiswa tidak berhenti pada pergantian rektor. Menurutnya, mahasiswa tetap akan mengawal transparansi pengelolaan kampus dan sistem pendidikan apabila nantinya terjadi pergantian kepemimpinan.

Sementara itu, Wakil Presiden Dema UINSA Fadlurrahman Fazle atau Ale mengatakan aksi dilakukan berdasarkan hasil konsolidasi mahasiswa. Ia membantah anggapan bahwa gerakan tersebut didasarkan pada keberpihakan terhadap kelompok tertentu. Menurutnya, tuntutan mahasiswa disusun berdasarkan sejumlah persoalan yang dikaji oleh mahasiswa.

Ale juga menjelaskan bahwa mahasiswa berencana mendirikan posko di lingkungan kampus dan melanjutkan konsolidasi. Ia mengatakan mahasiswa tetap memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang hendak mengikuti kegiatan akademik, meskipun sejumlah akses utama kampus dibatasi.

Terkait aksi yang berlangsung sejak pagi, Ale menyebut langkah tersebut telah direncanakan sebelumnya. Ia mengatakan mahasiswa memperoleh sejumlah informasi mengenai adanya tawaran kepada peserta aksi sehingga massa kemudian menyusun strategi untuk menjaga keberlangsungan gerakan.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa juga menyampaikan sejumlah persoalan lain, termasuk terkait keamanan kampus dan kebijakan jam malam. Ale berpendapat bahwa persoalan keamanan dan penerangan kampus perlu diperkuat tanpa membatasi ruang aktivitas mahasiswa.

Di sisi lain, aksi tersebut sempat diwarnai ketegangan antara massa mahasiswa dengan pihak kampus. Fuad mengatakan bahwa mahasiswa memahami tanggung jawab dosen untuk mengajar, tetapi untuk sementara meminta aktivitas akademik dihentikan sampai tuntutan mahasiswa memperoleh tanggapan.

Fuad menyatakan hingga saat wawancara dilakukan, belum ada tanggapan langsung dari Prof. Muzakki terhadap tuntutan mahasiswa. Ia mengatakan mahasiswa akan tetap melakukan aksi apabila tidak ada komunikasi dengan pihak rektor.

Selain aksi di dalam kampus, mahasiswa juga berencana menempuh jalur lain untuk menyampaikan tuntutan. Ale menyebut pihaknya akan mengirimkan pernyataan sikap kepada rektorat, Kementerian Agama, serta DPR RI. Mahasiswa juga disebut berencana mengajukan permohonan audiensi kepada Kementerian Agama RI.

Mengenai proses pemilihan rektor, sebagian mahasiswa juga mempertanyakan transparansi mekanisme yang berada di bawah Kementerian Agama. Fuad mengatakan mahasiswa ingin mengetahui secara jelas regulasi dan proses penentuan rektor agar tidak sekadar terjadi pergantian figur.

Menurut Fuad, rektor yang diharapkan mahasiswa ke depan merupakan sosok yang memahami kebutuhan mahasiswa serta memperhatikan proses pendidikan mereka. Ia menekankan bahwa pendidikan di kampus tidak hanya berkaitan dengan perolehan gelar, tetapi juga pembentukan kapasitas mahasiswa sebagai lulusan.

Aksi mahasiswa hingga wawancara berlangsung masih terus dikawal melalui konsolidasi internal. Mahasiswa menyatakan akan menentukan langkah selanjutnya berdasarkan perkembangan tuntutan dan respons dari pihak-pihak yang mereka tuju.

Reporter: Shidqi, Pinky, Chazoe, Felis

Penulis: Indah Dian

Penyunting: Zidan As'ad

Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman anda! Learn More
Accept !