Namanya Arumi, gadis asal pesisir Lamongan yang
datang ke Surabaya dengan mimpi setinggi langit. Sebagai mahasiswi baru jurusan
Sastra Indonesia, Arumi sangat ceria menikmati status barunya. Ia hobi
berkeliling kampus, mengagumi gedung-gedung disana, dan bersemangat setiap kali
membahas diksi dalam puisi. Meski ia mengaku tidak terlalu cerdas, tapi soal
rajin dan disiplin, Arumi juaranya. Ia selalu duduk di kursi depan dan
catatannya adalah yang paling rapi di kelas.
Namun, semangat membara itu sempat padam saat Surabaya
sedang tidak bersahabat. Hujan badai membuat atap kosnya bocor. Di tengah
dingin yang menusuk, tubuh Arumi mendadak ambruk. Demam tinggi menyerangnya
tepat saat ia harus menyelesaikan tugas telaah puisi setebal sepuluh halaman.
Arumi meringkuk di bawah selimut tipis, menggigil hebat.
"Ibu, Arumi pengen pulang ke Lamongan," bisiknya lirih dengan air
mata yang membasahi bantal. Tidak ada siapa-siapa di kosnya. Ia merasa
sendirian di tengah kota besar ini. Ia mencoba bangkit untuk mengambil air
minum, namun kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai yang dingin.
Di tengah rasa putus asa itu, ponselnya bergetar. Sebuah
pesan masuk dari Elang, kakak tingkat yang dikenal paling galak di Himpunan
Mahasiswa.
"Arumi, tugas telaah puisimu mana? Jangan
mentang-mentang maba ceria terus jadi malas!" tulis pesan itu.
Arumi membalas dengan jemari gemetar, "Maaf Kak,
saya sedang sakit. Saya usahakan kirim malam ini."
Tak disangka, sepuluh menit kemudian, pintu kamarnya
diketuk keras. Arumi menyeret tubuhnya untuk membuka pintu. Di sana berdiri
Elang dengan wajah ketus, membawa sebungkus nasi hangat.
"Ini makan. Jangan mati di kosan, nanti bikin repot
orang satu gedung," kata Elang singkat lalu pergi begitu saja.
Selama seminggu penuh, setiap pagi selalu ada susu kotak
dan roti di depan pintu kamar Arumi tanpa nama pengirim. Arumi yang ceria
kembali bangkit. Ia mengira itu dari Elang yang diam-diam perhatian padanya.
Arumi mulai merasa ada benih cinta di tengah sakitnya.
Saat sudah sembuh, Arumi menghampiri Elang untuk
mengucapkan terima kasih dengan wajah berseri-seri. Namun, Elang justru
bingung.
"Susu kotak? Saya cuma sekali itu kasih nasi karena disuruh Ibu saya.
Beliau kenal Ibumu di pasar Lamongan," kata Elang dingin.
Arumi tertegun. Ternyata dugaannya salah total. Lalu
siapa?
Sore harinya, Arumi menemukan sebuah kartu kecil di bawah
botol susunya yang terakhir. Kartu itu bertuliskan: “Semangat ya, Nak. Ibu
sengaja kerja jadi juru masak di kantin kampusmu biar bisa pantau kamu tanpa
bikin kamu manja. Jangan lupa diminum susunya.”
Arumi lari menuju kantin kampus. Di sana, ia melihat
ibunya sedang menyapu lantai kantin dengan seragam pelayan. Ibunya yang ia kira
ada di Lamongan, ternyata rela merantau secara diam-diam dan bekerja di kampus
yang sama hanya demi memastikan Arumi makan dengan layak.
Arumi memeluk ibunya erat di tengah riuhnya mahasiswa
lain. "Ibu kok nggak bilang?" tangisnya pecah.
Sang ibu hanya tersenyum, "Kalau Ibu bilang, kamu
pasti nggak fokus belajar. Sekarang, kembali ceria lagi ya, buat Ibu bangga di
Kota Pahlawan ini."
Arumi sadar, rindu paling berat bukan tentang kota, tapi
tentang kasih sayang yang rela bersembunyi demi sebuah masa depan.
Penulis: Silfia Pratama Khoiriyah
Penyunting: Zidan As'ad