Rindu di Kota Pahlawan

0

 

Sumber: tiketwisata.surabaya.go.id

Namanya Arumi, gadis asal pesisir Lamongan yang datang ke Surabaya dengan mimpi setinggi langit. Sebagai mahasiswi baru jurusan Sastra Indonesia, Arumi sangat ceria menikmati status barunya. Ia hobi berkeliling kampus, mengagumi gedung-gedung disana, dan bersemangat setiap kali membahas diksi dalam puisi. Meski ia mengaku tidak terlalu cerdas, tapi soal rajin dan disiplin, Arumi juaranya. Ia selalu duduk di kursi depan dan catatannya adalah yang paling rapi di kelas.

Namun, semangat membara itu sempat padam saat Surabaya sedang tidak bersahabat. Hujan badai membuat atap kosnya bocor. Di tengah dingin yang menusuk, tubuh Arumi mendadak ambruk. Demam tinggi menyerangnya tepat saat ia harus menyelesaikan tugas telaah puisi setebal sepuluh halaman.

Arumi meringkuk di bawah selimut tipis, menggigil hebat. "Ibu, Arumi pengen pulang ke Lamongan," bisiknya lirih dengan air mata yang membasahi bantal. Tidak ada siapa-siapa di kosnya. Ia merasa sendirian di tengah kota besar ini. Ia mencoba bangkit untuk mengambil air minum, namun kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk di lantai yang dingin.

Di tengah rasa putus asa itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Elang, kakak tingkat yang dikenal paling galak di Himpunan Mahasiswa.

"Arumi, tugas telaah puisimu mana? Jangan mentang-mentang maba ceria terus jadi malas!" tulis pesan itu.

Arumi membalas dengan jemari gemetar, "Maaf Kak, saya sedang sakit. Saya usahakan kirim malam ini."

Tak disangka, sepuluh menit kemudian, pintu kamarnya diketuk keras. Arumi menyeret tubuhnya untuk membuka pintu. Di sana berdiri Elang dengan wajah ketus, membawa sebungkus nasi hangat.

"Ini makan. Jangan mati di kosan, nanti bikin repot orang satu gedung," kata Elang singkat lalu pergi begitu saja.

Selama seminggu penuh, setiap pagi selalu ada susu kotak dan roti di depan pintu kamar Arumi tanpa nama pengirim. Arumi yang ceria kembali bangkit. Ia mengira itu dari Elang yang diam-diam perhatian padanya. Arumi mulai merasa ada benih cinta di tengah sakitnya.

Saat sudah sembuh, Arumi menghampiri Elang untuk mengucapkan terima kasih dengan wajah berseri-seri. Namun, Elang justru bingung.
"Susu kotak? Saya cuma sekali itu kasih nasi karena disuruh Ibu saya. Beliau kenal Ibumu di pasar Lamongan," kata Elang dingin.

Arumi tertegun. Ternyata dugaannya salah total. Lalu siapa?

Sore harinya, Arumi menemukan sebuah kartu kecil di bawah botol susunya yang terakhir. Kartu itu bertuliskan: “Semangat ya, Nak. Ibu sengaja kerja jadi juru masak di kantin kampusmu biar bisa pantau kamu tanpa bikin kamu manja. Jangan lupa diminum susunya.”

Arumi lari menuju kantin kampus. Di sana, ia melihat ibunya sedang menyapu lantai kantin dengan seragam pelayan. Ibunya yang ia kira ada di Lamongan, ternyata rela merantau secara diam-diam dan bekerja di kampus yang sama hanya demi memastikan Arumi makan dengan layak.

Arumi memeluk ibunya erat di tengah riuhnya mahasiswa lain. "Ibu kok nggak bilang?" tangisnya pecah.

Sang ibu hanya tersenyum, "Kalau Ibu bilang, kamu pasti nggak fokus belajar. Sekarang, kembali ceria lagi ya, buat Ibu bangga di Kota Pahlawan ini."

Arumi sadar, rindu paling berat bukan tentang kota, tapi tentang kasih sayang yang rela bersembunyi demi sebuah masa depan.

Penulis: Silfia Pratama Khoiriyah
Penyunting: Zidan As'ad

Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman anda! Learn More
Accept !