Kehadiran dan Pemahaman: Duduk Hanya Diam, Keluar Kelas Tanpa Makna

0

Ilustrasi: Azril

Di ruang kelas kampus, ada satu hal yang hampir selalu terjadi, daftar hadir begitu ditekankan, entah di awal atau di akhir perkuliahan. Kelihatannya sederhana, bahkan sudah dianggap bagian biasa dari sistem akademik. Tapi jika dipikirkan lebih jauh, kebiasaan ini sebenarnya menyimpan pertanyaan yang jarang dibahas serius yaitu apakah kehadiran fisik masih pantas dijadikan ukuran utama dalam menilai proses belajar?

Secara umum, absensi memang punya fungsi. Kehadiran sering dianggap sebagai tanda disiplin dan bentuk tanggung jawab mahasiswa terhadap kuliah. Dalam batas tertentu, anggapan itu tidak sepenuhnya salah. Tanpa hadir, memang sulit membayangkan adanya proses belajar yang efektif di kelas. Tapi masalah mulai muncul ketika kehadiran tidak lagi dipahami sebagai sarana, melainkan berubah jadi tujuan.

Di lapangan, yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak mahasiswa datang ke kelas, memenuhi daftar hadir, lalu menjalani perkuliahan tanpa benar-benar fokus. Hadir secara fisik, tapi tidak hadir secara pikiran. Duduk, mendengar atau sekadar terlihat mendengar tanpa benar-benar memahami atau mempertanyakan materi. Dalam situasi seperti ini, kehadiran jadi kehilangan esensinya.

Keadaan ini mengingatkan pada kritik lama tentang model pendidikan yang menempatkan mahasiswa sebagai penerima pasif. Mahasiswa hanya menyimpan informasi, tanpa banyak ruang untuk berdialog atau berpikir kritis. Kalau dilihat sekarang, situasinya bahkan terasa lebih rumit. Bukan cuma pasif, tapi juga terdorong untuk mengikuti sistem yang lebih menghargai kepatuhan daripada proses berpikir itu sendiri.

Padahal, kalau melihat dari sudut pandang pembelajaran, pengetahuan itu tidak bisa sekadar didengarkan begitu saja. Ia harus dibangun sendiri oleh mahasiswa lewat proses berpikir. Artinya, belajar itu seharusnya aktif, melibatkan pemahaman, bukan sekadar hadir. Dalam konteks ini, absensi sebenarnya dapat berarti kalau diikuti dengan keterlibatan yang nyata.

Ironisnya, banyak sistem penilaian di kampus masih memberi porsi besar pada kehadiran. Bahkan, dalam beberapa kasus, absensi bisa jadi penentu kelulusan. Ini menunjukkan satu hal, sistem cenderung lebih nyaman dengan hal-hal yang mudah diukur. Kehadiran bisa dihitung, nilai bisa diberi angka. Tetapi, kemampuan berpikir, kedalaman analisis, atau kualitas argumen itu jauh lebih sulit diukur.

Akhirnya, mahasiswa pun menyesuaikan diri dengan pola itu. Fokusnya bergeser. Bukan lagi bagaimana memahami materi, tapi bagaimana memenuhi syarat supaya tetap aman. Yang penting hadir, yang penting tugas terkumpul, yang penting nilai tidak bermasalah. Lama-lama, cara berpikir seperti ini jadi kebiasaan. Belajar bukan lagi soal memahami, tapi soal bertahan.    

Beberapa penelitian pendidikan juga menunjukkan hal yang serupa. Kehadiran ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan pemahaman. Justru faktor seperti cara dosen mengajar, interaksi di kelas, dan keterlibatan mahasiswa lebih berpengaruh. Jadi, sekadar hadir tanpa ikut terlibat jelas tidak cukup.

Dari sini muncul masalah ilusi kompetensi. Mahasiswa bisa saja mendapat nilai tinggi, bahkan IPK yang bagus, tapi belum tentu benar-benar menguasai materi. Di atas kertas terlihat berhasil, tapi ketika dihadapkan pada situasi nyata yang butuh analisis atau pemecahan masalah, tidak semuanya mampu menghadapinya.

Ini jadi persoalan serius kalau dikaitkan dengan tujuan pendidikan tinggi. Kampus seharusnya bukan cuma tempat memindahkan pengetahuan, tapi juga ruang untuk membentuk cara berpikir. Mahasiswa diharapkan bisa kritis, berani mempertanyakan, dan mampu mengembangkan gagasan. Tapi kalau sistemnya lebih menghargai kepatuhan daripada pemikiran, tujuan itu jadi sulit tercapai. 

Selain itu, sistem seperti ini juga berpengaruh ke motivasi belajar. Mahasiswa yang sebenarnya aktif dan kritis bisa merasa usahanya tidak terlalu dihargai. Sementara yang sekadar mengikuti aturan justru berada di posisi aman. Kalau dibiarkan, hal ini bisa menurunkan kualitas diskusi akademik di kampus.

Masalah ini jelas tidak cukup diselesaikan dengan sekadar mengubah sistem kualitas absensi. Yang lebih penting adalah cara pandang terhadap belajar itu sendiri. Penilaian seharusnya tidak hanya melihat hal-hal yang bisa dihitung, tapi juga yang bisa dipahami. Keterlibatan, kemampuan berargumen, dan kedalaman berpikir perlu diberi ruang yang lebih besar.

Sebenarnya, sudah banyak cara yang bisa digunakan. Penilaian berbasis proyek, misalnya, bisa menunjukkan pemahaman lewat karya nyata. Diskusi kelas bisa jadi ruang untuk melihat cara berpikir mahasiswa. Refleksi tertulis juga bisa membantu melihat seberapa jauh materi dipahami. Kalau diterapkan dengan serius, cara-cara ini bisa memberi gambaran yang lebih utuh.

Tapi perubahan tidak hanya bergantung pada sistem atau dosen. Mahasiswa juga punya peran. Selama kehadiran masih dianggap tujuan utama, proses belajar akan terus terjebak di situ. Perlu ada kesadaran untuk kembali menempatkan pemahaman sebagai hal yang utama, bukan sekadar nilai.

Pada akhirnya, pertanyaan “apa yang sebenarnya dinilai?” memang tidak punya jawaban sederhana. Tapi pertanyaan ini penting, karena membuka ruang untuk melihat kembali arah pendidikan. Kalau yang terus dikejar hanya kehadiran tanpa keterlibatan, yang dihasilkan hanyalah kepatuhan. Bukan pemikiran.

Sebaliknya, kalau esensi belajar mulai diutamakan, kampus bisa kembali jadi ruang yang hidup tempat bertukar ide, berdebat, dan membangun pengetahuan bersama.

Jadi, persoalan antara absensi dan esensi ini sebenarnya bukan sekadar soal teknis penilaian. Ini soal arah pendidikan itu sendiri. Dan di titik ini, kampus dihadapkan pada pilihan: tetap nyaman dengan sistem yang ada atau mulai berubah menuju proses belajar yang lebih bermakna.

Penulis: Ahmad Azril Zikrullah
Penyunting: Zidan As'ad

Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman anda! Learn More
Accept !