Pernahkah kamu merasa tertinggal? Padahal kamu sudah berlari sekuat tenaga?
Di penghujung bulan April ini, tanpa sadar kita sering kali terjebak dalam sebuah perasaan yang sulit dijelaskan. Ada semacam kecemasan yang muncul setiap kali kita menggeser layar ponsel dan melihat linimasa media sosial yang penuh dengan pencapaian orang lain. Kita berada di sebuah era di mana keberhasilan seseorang terpampang nyata selama dua puluh empat jam, menciptakan standar sukses yang terkadang terasa mencekik.
Fenomena ini bukan sekadar rasa iri, melainkan sebuah krisis identitas yang sering dialami oleh generasi muda yang sedang mencari pijakan di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat. Tekanan yang kita rasakan saat ini sering kali bersifat tidak kasat mata. Jika dulu pencapaian hanya diketahui oleh lingkaran terdekat, kini kita dipaksa untuk terus membandingkan proses internal kita yang masih berantakan dengan hasil akhir orang lain yang terlihat sempurna.
Kita terjebak dalam budaya kompetisi digital yang membuat kita merasa “kurang” dan tertinggal, padahal sebenarnya kita hanya memiliki ritme yang berbeda. Padatnya informasi dan kebisingan di dunia maya perlahan-lahan menenggelamkan suara hati kita sendiri, membuat kita lupa bahwa setiap orang memiliki musim bertumbuh yang tidak bisa disamakan satu sama lain.
Fase penuh ketidakpastian ini adalah sebuah undangan untuk kembali menengok ke dalam diri. Menyadari bahwa merasa bingung, lelah, atau bahkan tersesat di tengah jalan adalah bagian yang sangat manusiawi dari sebuah perjalanan. Alih-alih terus memaksa diri untuk berlari mengejar bayang-bayang kesuksesan orang lain, mungkin inilah saat yang tepat untuk mulai mengenali kapasitas diri sendiri. Kita perlu memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat dari riuhnya notifikasi, mencoba untuk lebih apresiatif terhadap setiap langkah kecil yang berhasil kita lalui sepanjang bulan ini, sekecil apa pun itu.
Fokus pada proses memberikan kita ketenangan bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan lari cepat untuk sampai ke garis akhir, melainkan sebuah perjalanan panjang yang perlu dinikmati tiap episodenya. Pada akhirnya, kejujuran pada diri sendiri tentang apa yang benar-benar kita inginkan adalah kompas terbaik yang akan menuntun kita keluar dari keraguan, menuju arah yang lebih tenang dan bermakna.
Sebagai penutup, mari kita jadikan momentum akhir bulan ini bukan sebagai beban tentang apa yang belum kita capai, melainkan sebagai garis mulai yang baru untuk melangkah lebih tenang. Tidak ada salahnya untuk sesekali berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan meyakinkan diri sendiri bahwa kita sudah melakukan yang terbaik. Sebab, pada akhirnya, pencapaian terbesar bukanlah tentang seberapa banyak kita melampaui orang lain, melainkan tentang bagaimana kita bisa berdamai dengan diri sendiri dan tetap melangkah meskipun dunia luar terus menuntut lebih.
Penulis: Elis Nur Diyanah
Manzil
Penyunting: Zidan As'ad