A. Ringkasan Cerita
Cerita ini bermula tentang seorang lelaki bernama Athar yang tidak
mempunyai ayah ketika umurnya masih menginjak 5 tahun. Setelah kejadian
tersebut, keluarganya hanya tersisa 4 orang, yaitu; ibunya, dua kakak,
serta adiknya yang masih kecil. Kakak pertamanya adalah seorang perempuan
bernama Rani, kakak keduanya seorang laki-laki bernama Risky, sedangkan adik
perempuannya bernama Tiara. Tak lama setelah kepergian ayahnya, kakak
pertamanya meninggal saat sedang mengandung kedua anaknya. Kesedihan
menyelimuti mereka karena tak disangka kejadian itu terjadi secara cepat.
Kemudian, tibalah saat dimana Athar masuk kelas 2 SMP. Di SMP, ia bergabung dengan band yang ada
di sekolahnya. Band tersebut bernama Endelwes yang terdiri
dari beberapa teman Athar yang Ia percayai jago dalam bidangnya. Singkat cerita, semua teman di
kelasnya banyak memiliki pacar sedangkan dia jomlo. Tiba-tiba ada niat
dihatinya untuk mendekati banyak perempuan. Akan tetapi Ia merasa kebanyakan
perempuan yang dekatinya selalu tidak cocok hingga berakhir putus.
Beberapa tahun kemudian, Athar menginjakkan kakinya di SMA. Pada saat
tersebut mata dan hatinya tertuju pada seorang perempuan cantik. Ia merasa
tertarik dengannya. Perempuan tersebut bernama Ara. Demi mengetahui sosok
perempuan tersebut, ia rela mencari beberapa informasi dari teman-temannya. Ternyata setelah
dicari tahu, Ara adalah sosok perempuan yang religius. Berhubung Athar
adalah anak band yang berposisi sebagai vokalis, tibalah keinginannya untuk melanjutkan band tersebut
di SMA.
Anak band sendiri biasanya terkenal kucel dan kebetulan Athar ini anak
yang malas semasa SMP. Ketika Athar melihat sesosok Ara, Ia yang tadinya malas
dan nakal tiba-tiba termotivasi ingin menjadi lebih baik demi mendapatkan
pujaan hatinya. Hal tersebut didukung oleh sahabatnya Mamat. Hal-hal positif
mulai dari menjadi murid yang aktif di kelas serta mengikuti ekstrakurikuler rohis mulai diajarkan kepada Athar. Apa yang Ia lakukan tersebut ternyata berbuah manis pada akhirnya.
Suatu waktu, ketika hari kelulusan tiba, akhirnya ia berani mengungkapkan
perasaannya pada Ara. Namun, jawaban yang didapatkan tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan. Ia dan Ara berpisah untuk melanjutkan Pendidikan mereka
masing-masing. Ara berkuliah di Jakarta, sedangkan Athar berkuliah di Bandung.
Dengan berbagai keterbatasan ekonomi, Athar pantang menyerah demi mencapai
impiannya. Di Bandung Ia berniat untuk kuliah serta bekerja. Ada waktu di mana
ketika ia sedang di dalam bis,
ia bertemu dengan seorang lelaki tua bernama Pak Farhan
yang berwajah teduh. Ia berbincang lama dengan Athar, hingga saat percakapan berakhir
ia disuruh untuk mampir ke kiosnya yang menjual berbagai baju serta kerudung syar’i.
Setelah kejadian tersebut tibalah Athar dikota Bandung, Ia bertemu
dengan dua orang baik bernama Kang Zein dan Mas Eko yang mengajarkannya banyak
hal tentang bisnis. Selama di Bandung ia berkuliah dengan aktif seperti ketika ia duduk di
bangku SMA. Ia juga menyelingi kuliahnya dengan berdagang stiker dan gantungan
kunci. Ia melakukan semuanya dengan semangat.
Pada suatu ketika dia dihadapkan dengan sebuah alamat kios yang
ditunjukkan oleh Pak Farhan dan dipertemukanlah keduanya di kios tersebut. Pak
Farhan ternyata memiliki Putri bernama Salsabila. Singkat cerita beliau
menawarkan Athar agar bisa membantu mengelola kiosnya tersebut. Permintaan
tersebut diterima, diikuti permohonan Athar kepada Pak Farhan agar Kang Zein
juga ikut bekerja. Maka diterimalah mereka.
Selang beberapa waktu, tibalah waktu dicmana Pak Farhan ingin
menikahkan putrinya dengan Athar, akan tetapi dilain sisi Kang Zein pernah
berkata jikalau ia juga ingin menikahi putri Pak Farhan yang bernama Salsabila
itu. Ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Semua hal tersebut terbayang
dikepalanya, sehingga ia tidak kuat lagi dan segera meminta pertolongan kepada Allah melalui istikharah dalam bentuk salat. Seusai sholat ia mendapatkan sebuah jawaban.
Tibalah ketika di sebuah rumah sakit yang mana Pak Farhan jatuh sakit
setelah mendengarkan perkataan Athar yang menolak permintaannya untuk menikah
dengan putrinya, tiba-tiba menjadi berubah seketika. Segera dinikahkanlah
langsung putrinya tersebut dengan Kang Zein oleh Pak Farhan ketika dirumah
sakit. Athar yang melihat hal tersebut sontak merasa sangat bahagia. Ia yang
sebelumnya telah bertemu dengan Ara yang mana jawabannya ketika bertemu
ternyata Ara mau menerima ajakannya untuk menikah, dan Ara yang mengirim sebuah
pesan yang mana jikalau Athar sudah siap segeralah datang kerumahnya. Setelah
kejadian tersebut ia langsung datang ke rumah Ara untuk bertemu Bapaknya dan ternyata
jawaban bapaknya memuaskan. Ia diperbolehkan untuk menikah dengan putrinya, Ara, gadis
yang dinanti-nantikannya sewaktu dia SMA. Pada akhirnya cerita ini berakhir
dengan sebuah kebahagiaan yang tiada tandingnya.
B. B. Analisis
Nilai Keislaman
Dalam novel yang saya baca terdapat banyak sekali contoh nilai-nilai
keislaman yang ditunjukkan. Berikut beberapa nilai Islam yang ada dalam novel
“Cinta dalam Ikhlas”:
1. Nilai Akidah
Ditunjukkan saat Mama Athar tetap percaya jika musibah itu terjadi karena ada sebuah alasan. Beliau mengajarkan pada Athar untuk tetap berbaik sangka terhadap Allah SWT.
2. Nilai Syari'ah
Ditunjukkan oleh Athar yang mengikuti ekstra rohis, selalu berdoa, dan melakukan sholat-sholat wajib serta sunnah.
3. Nilai Akhlak
Ditunjukkan oleh tokoh utama Athar yang selalu bersyukur, sabar, dan ikhlas menerima segala ujian dan sesuatu yang terjadi serta kebaikan dan kerendahan hatinya kepada orang-orang terdekat yang pernah membantunya disaat ia dalam sebuah kesulitan.
C. C. Kelebihan dan Kekurangan
Novel ini hadir dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti serta alur yang mengalir rapi, diperkuat oleh karakter yang mengalami perkembangan nyata dan nilai keislaman yang tersampaikan secara halus tanpa kesan menggurui. Namun, di balik kelebihan tersebut, terdapat bagian cerita yang terasa bertele-tele dan plot yang cenderung mudah ditebak, hingga akhirnya ditutup dengan ending yang menggantung bagi pembaca.
D. Relevansi dengan Kehidupan Masa Kini
1. Perubahan Karakter
Masa lalu seseorang tidak dapat disamakan dengan masa depannya, setiap orang punya kesempatan untuk bertumbuh, berkembang, dan berubah.
2. Kesabaran dan Ketangguhan
Tidak menyalahkan keadaan namun justru bangkit untuk menghadapi banyaknya kenyataan-kenyataan pahit yang banyak tidak sesuai dengan keinginan kita.
3. Perjuangan untuk Hidup Mandiri
Banyak kalangan mahsasiswa saat ini menjalankan pekerjaan sampingan demi membayar UKT.
Penyunting: Zidan As'ad
