Identitas Buku
Judul Buku : My Ice Girl
Penulis : Pit Sansi
Penerbit : Bentang Belia
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman : 396 Halaman
ISBN : 978-6-02430-239-9
Resensi
Novel My Ice Girl yang seru dan bikin baper sangat cocok untuk kalangan remaja. ini jawabannya. Berawal dari popularitasnya di aplikasi Fizzo dan Wattpad, gubahan Pit Sansi ini berhasil menarik perhatian penerbit Bentang Belia untuk diangkat ke dalam bentuk cetak.
Cerita berfokus pada Malik, siswa populer yang dikenal agak nakal dan playboy. Dunianya berubah total saat ia bertemu dengan Adara, gadis cantik dengan aura sedingin es yang membuatnya dijuluki "Ice Girl". Pandangan pertama mendaratkan butiran cinta di hati Malik. Sebaliknya, Dara justru tidak peduli dengan sikap Malik yang dianggap sembarangan. Namun, Malik tetap berusaha untuk berubah menemukan versi terbaik dirinya demi meluluhkan hati Dara.
Selain soal cinta-cintaan, cerita ini juga punya sisi misteri yang bikin penasaran. Ada rahasia di balik kematian adiknya Malik yang ternyata berhubungan sama Dara. Jadi ceritanya nggak melulu soal pacaran, tapi ada drama, komedi, dan ketegangan yang bikin kita pengen terus baca sampai habis.
Pit Sansi mengemas narasi dengan bahasa yang santai dan kekinian, namun tetap terjaga kesopanannya sehingga ramah dan cocok untuk anak usia remaja. Banyak pesan moral yang bisa diambil mulai dari pentingnya keluarga, kejujuran, sampai niat untuk berubah menjadi orang yang lebih baik.
Kelebihan dan Kekurangan
Alur cerita novel ini sigap dan tidak membosankan. Karakter tokohnya digambarkan dengan sangat jelas. Jadi kita bisa membayangkan bagaimana sifat Malik yang asyik dan Dara yang dingin. Keserasian antara genre romantis dengan misterinya sesuai, sehingga ceritanya tidak monoton. Bahasanya mudah dipahami dan banyak dialog lucu yang membuat senyum-senyum sendiri pada saat membacanya. Tetapi, tema klise tentang percintaan remaja sudah sering dijumpai di ragam cerita dan membuat alur cerita ini terasa sedikit biasa saja.
Quotes Pilihan
“Kadang orang
yang terlihat paling kuat, justru yang paling sering menangis dalam diam.”
Penulis: Balqis Zalfaatun Nadhifah
Penyunting: Zidan As'ad
