”Pulang ya, nak?” suara bunda kembali terngiang di dalam pikiranku sendiri.
Malam ini adalah malam-malam dimana bunda
selalu memintaku kembali pulang untuk menemui beliau.
Setiap perbincangan dan tatap muka yang kita
lakukan melewati telepon saja tidak cukup bagi beliau untuk melepas rindu
dengan sang anak.
Memang begitulah seorang ibu, akan selalu
khawatir kepada anakanya dimanapun mereka berada. Entah mereka masih seperti
anak kecil maupun beranjak dewasa, mereka akan selalu dikhawatirkan oleh orang
tua mereka.
Namun, ada satu hal yang selalu menahanku
untuk kembali pulang meskipun aku ingin.
Aku tidak memiliki cukup uang untuk kembali.
Semua uang yang kumiliki untuk menghidupi diri
di kota tidaklah cukup. Bekerja dengan gaji sedikit dan mengemban ilmu disaat
yang bersamaan adalah suatu hal yang berat bagiku.
Aku menghela napas sejenak dan memikirkan cara
agar aku bisa mencari cara untuk menghindari pertanyaan ibunda yang selalu
beliau lontarkan.
Tiba-tiba saja, ada yang menepuk pelan
pundakku. Sontak aku menoleh dan tersenyum ketika mendapati sahabat baikku,
Brian.
“Kenapa, bro? Lesu banget kelihatannya,” ia
bertanya sembari mendudukkan dirinya disampingku dan menikmati angin malam
bersama.
“Bunda minta aku pulang. Udah setengah tahun
aku belum pulang kampung, kamu tahu sendiri gimana keadaanku sekarang,” aku
terkekeh kecil sembari bercerita. Sudah tak jarang aku menceritakan semua
masalahku kepadanya.
Brian terdiam sejenak sebelum kemudian ia
menatapku dan melayangkan senyuman kecil, “Gimana kalo aku ikut pulang ke
kampung halamanmu? Kamu nggak perlu bayar, itung-itung aku juga silaturahmi
ke orang tuamu juga.”
Aku terkejut ketika ia menawarkan hal tersebut
dan sontak aku menggeleng, “Nggak usah, nanti aku bakal ngerepotin kamu. Aku
nggak mau punya hutang juga ke kamu nantinya.”
Brian tertawa dan menepuk pundakku, “Nggak
usah dipikirin berat-berat. Aku yang mau ngelakuin hal itu. Ayo, kita perlu
nyiapin barang bawaan kita.” Ia pun menarik tanganku dan membuatku berdiri.
Aku tidak bisa berhenti tertawa dan tersenyum
akan kelakuannya. Aku merasa beruntung sekali bisa mendapatkan sahabat seperti
Brian.
Sembari masuk kembali ke dalam kost, aku
tersenyum dan menatap langit malam.
‘Bun, aku pulang.’
Penulis: Cikka Esa Karunia
Penyunting: Zidan As'ad
