Kembali Pulang

0


Sumber: Pinterest


”Pulang ya, nak?” suara bunda kembali terngiang di dalam pikiranku sendiri.

Malam ini adalah malam-malam dimana bunda selalu memintaku kembali pulang untuk menemui beliau.

Setiap perbincangan dan tatap muka yang kita lakukan melewati telepon saja tidak cukup bagi beliau untuk melepas rindu dengan sang anak.

Memang begitulah seorang ibu, akan selalu khawatir kepada anakanya dimanapun mereka berada. Entah mereka masih seperti anak kecil maupun beranjak dewasa, mereka akan selalu dikhawatirkan oleh orang tua mereka.

Namun, ada satu hal yang selalu menahanku untuk kembali pulang meskipun aku ingin.

Aku tidak memiliki cukup uang untuk kembali.

Semua uang yang kumiliki untuk menghidupi diri di kota tidaklah cukup. Bekerja dengan gaji sedikit dan mengemban ilmu disaat yang bersamaan adalah suatu hal yang berat bagiku.

Aku menghela napas sejenak dan memikirkan cara agar aku bisa mencari cara untuk menghindari pertanyaan ibunda yang selalu beliau lontarkan.

Tiba-tiba saja, ada yang menepuk pelan pundakku. Sontak aku menoleh dan tersenyum ketika mendapati sahabat baikku, Brian.

“Kenapa, bro? Lesu banget kelihatannya,” ia bertanya sembari mendudukkan dirinya disampingku dan menikmati angin malam bersama.

“Bunda minta aku pulang. Udah setengah tahun aku belum pulang kampung, kamu tahu sendiri gimana keadaanku sekarang,” aku terkekeh kecil sembari bercerita. Sudah tak jarang aku menceritakan semua masalahku kepadanya.

Brian terdiam sejenak sebelum kemudian ia menatapku dan melayangkan senyuman kecil, “Gimana kalo aku ikut pulang ke kampung halamanmu? Kamu nggak perlu bayar, itung-itung aku juga silaturahmi ke orang tuamu juga.”

Aku terkejut ketika ia menawarkan hal tersebut dan sontak aku menggeleng, “Nggak usah, nanti aku bakal ngerepotin kamu. Aku nggak mau punya hutang juga ke kamu nantinya.”

Brian tertawa dan menepuk pundakku, “Nggak usah dipikirin berat-berat. Aku yang mau ngelakuin hal itu. Ayo, kita perlu nyiapin barang bawaan kita.” Ia pun menarik tanganku dan membuatku berdiri.

Aku tidak bisa berhenti tertawa dan tersenyum akan kelakuannya. Aku merasa beruntung sekali bisa mendapatkan sahabat seperti Brian.

Sembari masuk kembali ke dalam kost, aku tersenyum dan menatap langit malam.

‘Bun, aku pulang.’

 
Penulis: Cikka Esa Karunia
Penyunting: Zidan As'ad

Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman anda! Learn More
Accept !