Di sela sunyi yang mengetuk
Aku pernah begitu dekat
Bukan dengan langkah, tapi dengan rasa
Yang tahu ke mana harus pulang tanpa diajari.
Ada teduh yang menetap tanpa diminta,
Seperti langit yang selalu mengerti arah
pandangku.
Waktu berjalan pelan, hampir tak terasa,
Setiap detiknya seperti zikir yang tak
terucap,
Mengalir begitu saja dalam diam
Dan mengisi celah-celah hatiku yang dulu utuh.
Aku tak banyak meminta,
Karna rasanya sudah dipenuhi sebelum sempat
berharap.
Namun kini, riuh datang tanpa permisi,
Membawa dunia yang terlalu ramai untuk
kupahami.
Langkahku tetap berjalan,
Tapi arah itu perlahan memudar
Seperti kompas yang kehilangan utara,
Atau doa yang tertinggal di ujung kesibukan.
Aku mencoba mengingat rasa itu,
Cara sederhana ketika hati tak perlu dipaksa
tunduk,
Ketika sujud terasa seperti pulang,
Dan air mata bukan karna lelah,
Melainkan karna terlalu dekat untuk
menjelaskan.
Sekarang, yang tersisa hanyalah gema,
Jejak halus yang sesekali menyapa tanpa
bentuk.
Ia hadir di sela lengahku,
Di antara napas yang terasa lebih berat dari
biasanya,
Membisikkan sesuatu yang tak bisa kuabaikan—
Bahwa aku pernah sampai… dan kini tersesat
pelan-pelan.
Barangkali ini bukan sekadar kehilangan,
Melainkan jarak yang kubiarkan tumbuh tanpa
kusadari.
Dan di antara semua yang berubah,
Ada satu hal yang tetap tinggal dalam diam:
Rindu
Yang tak pernah lupa jalan pulang,
Meski aku hampir lupa bagaimana cara kembali.
Penulis: Husnul Khotimah
Penyunting: Zidan As'ad