Jarak yang Kubiarkan Tumbuh Tanpa Kusadari

0


Sumber: Pinterest


Di sela sunyi yang mengetuk

Aku pernah begitu dekat

Bukan dengan langkah, tapi dengan rasa

Yang tahu ke mana harus pulang tanpa diajari.

Ada teduh yang menetap tanpa diminta,

Seperti langit yang selalu mengerti arah pandangku.

 

Waktu berjalan pelan, hampir tak terasa,

Setiap detiknya seperti zikir yang tak terucap,

Mengalir begitu saja dalam diam

Dan mengisi celah-celah hatiku yang dulu utuh.

Aku tak banyak meminta,

Karna rasanya sudah dipenuhi sebelum sempat berharap.

 

Namun kini, riuh datang tanpa permisi,

Membawa dunia yang terlalu ramai untuk kupahami.

Langkahku tetap berjalan,

Tapi arah itu perlahan memudar

Seperti kompas yang kehilangan utara,

Atau doa yang tertinggal di ujung kesibukan.

 

Aku mencoba mengingat rasa itu,

Cara sederhana ketika hati tak perlu dipaksa tunduk,

Ketika sujud terasa seperti pulang,

Dan air mata bukan karna lelah,

Melainkan karna terlalu dekat untuk menjelaskan.

 

Sekarang, yang tersisa hanyalah gema,

Jejak halus yang sesekali menyapa tanpa bentuk.

Ia hadir di sela lengahku,

Di antara napas yang terasa lebih berat dari biasanya,

Membisikkan sesuatu yang tak bisa kuabaikan—

Bahwa aku pernah sampai… dan kini tersesat pelan-pelan.

 

Barangkali ini bukan sekadar kehilangan,

Melainkan jarak yang kubiarkan tumbuh tanpa kusadari.

Dan di antara semua yang berubah,

Ada satu hal yang tetap tinggal dalam diam:

Rindu

Yang tak pernah lupa jalan pulang,

Meski aku hampir lupa bagaimana cara kembali.


Penulis: Husnul Khotimah
Penyunting: Zidan As'ad

Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman anda! Learn More
Accept !