Massa #SurabayaSadar Desak Prabowo-Gibran Mundur, Soroti Karhutla dan HAM

0


Gambar: Dok. Pribadi

Ratusan massa menggelar aksi #SurabayaSadar di kawasan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (22/10). Aksi tersebut membawa 17+4 tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah, mulai dari desakan agar Prabowo-Gibran mundur dari jabatannya, penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, hingga penuntasan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Aksi ini dilatarbelakangi kritik massa terhadap berbagai kebijakan pemerintah selama dua tahun terakhir, terutama terkait penanganan karhutla, penyelesaian kasus pelanggaran HAM, serta kebijakan publik yang dinilai belum menjawab persoalan masyarakat.

Koordinator lapangan Aliansi Mahasiswa Kolektif mengatakan aksi tersebut bukan gerakan yang berlangsung secara mendadak, melainkan hasil konsolidasi yang telah dilakukan sebelumnya.

“Kalau misalnya teman-teman bilang dadakan, kan harusnya ada parameternya. Tapi memang kesepakatan yang ada di forum, ya aksi di hari ini seperti itu,” ujarnya.

Ia menyebut desakan agar Prabowo-Gibran mundur menjadi salah satu tuntutan paling krusial. Menurutnya, berbagai kebijakan pemerintah selama dua tahun terakhir dinilai belum mampu menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Selain tuntutan politik tersebut, massa mendesak pemerintah menetapkan karhutla di Kalimantan dan wilayah lainnya sebagai bencana nasional. Korlap menilai penanganan karhutla membutuhkan langkah konkret karena dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga mengancam lingkungan dan menimbulkan persoalan lintas negara akibat penyebaran asap.

Soroti Penanganan Karhutla dan Penegakan Hukum

Andi Irvan dari KontraS yang diwawancarai dalam rangkaian Aksi Kamisan turut menyoroti penanganan karhutla dan penegakan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan.

Menurutnya, pemerintah perlu mengusut dugaan keterlibatan korporasi dalam peristiwa karhutla, termasuk pihak-pihak yang memiliki izin konsesi. Ia menilai penanganan bencana tidak cukup hanya berfokus pada dampaknya, tetapi juga perlu disertai penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab.

“Pemerintah tidak berorientasi, apalagi perintah hukum, tidak berorientasi untuk menegakkan hukum, menangkap dan menyidik serta memproses seluruh korporasi yang kita sepatutnya duga sebagai pihak-pihak yang terlibat dalam proses kebakaran,” kata Andi.

Andi juga mengkritik sejumlah program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih. Ia menilai program-program tersebut perlu dievaluasi berdasarkan manfaatnya bagi masyarakat serta dampaknya terhadap penggunaan anggaran negara.

Andi menyebut penetapan karhutla sebagai bencana nasional dan desakan agar Prabowo-Gibran mundur sebagai dua tuntutan yang paling mendesak. Ia juga menekankan pentingnya evaluasi kebijakan pemerintah dan penanganan persoalan kemanusiaan secara terbuka serta akuntabel.

Penuntasan Kasus HAM Jadi Sorotan

Selain persoalan lingkungan dan kebijakan publik, penuntasan kasus pelanggaran HAM menjadi bagian dari tuntutan yang disuarakan dalam aksi tersebut.

Adit, peserta Aksi Kamisan yang juga merupakan relawan KontraS, mengatakan Aksi Kamisan akan terus digelar setiap Kamis di depan Gedung Negara Grahadi. Menurutnya, aksi tersebut menjadi ruang untuk menyuarakan tuntutan atas penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu sekaligus mengkritik kebijakan pemerintah.

Ia menilai negara belum menunjukkan komitmen yang memadai dalam menyelesaikan sejumlah kasus pelanggaran HAM berat. Karena itu, ia mendorong adanya langkah konkret untuk membawa kasus-kasus tersebut ke proses hukum.

Adit juga menegaskan bahwa kritik yang disampaikan tidak terbatas pada persoalan karhutla, tetapi mencakup ketimpangan ekonomi dan kebijakan publik. Ia menyoroti program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai bagian dari kebijakan yang perlu dievaluasi.

Menurutnya, keberhasilan aksi tidak dapat diukur hanya dari hasil yang diperoleh dalam waktu singkat. Ia menilai aksi merupakan bagian dari perjuangan berkelanjutan untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap berbagai persoalan nasional.

“Harapan terdekat adalah teman-teman yang mengikuti aksi untuk tetap menyalakan api perlawanannya,” ujarnya.

Aksi Berlangsung Kondusif

Secara umum, aksi berlangsung kondusif. Setelah menyampaikan aspirasi, mahasiswa mendapatkan respons dari aparat yang bertugas di lokasi.

Aparat menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa karena berani dan bersedia menyampaikan aspirasi. Mereka juga berpesan agar peserta aksi pulang dengan selamat dan berhati-hati.WOO

Aksi #SurabayaSadar menjadi ruang bagi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil untuk menyampaikan kritik terhadap pemerintah, mulai dari penanganan karhutla, penuntasan kasus HAM, hingga evaluasi kebijakan publik. Massa berharap berbagai tuntutan yang disuarakan mendapat perhatian pemerintah dan mendorong langkah konkret dalam penyelesaian persoalan yang mereka soroti.

Reporter: Shidqi, Cazoe, Navira, Khalish, Nasywa, Iwang

Penulis: Khalis Meylina Adleria

Penyunting: Zidan As'ad 


Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman anda! Learn More
Accept !