Rabu (18/2), hujan disertai angin kencang mengakibatkan plafon teras belakang gedung
Fakultas Adab dan Humaniora ambruk.
Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 12 siang. Dari durasi rekaman video
yang beredar kejadian runtuhnya plafon terjadi selama 15 detik. Beruntung tidak
ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Muhammad
Aqil Kamil, Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam yang menjadi salah satu saksi
yang merekam detik-detik ambruknya plafon tersebut sudah menduga plafon yang
menjadi penghubung jalanan luar gedung dengan resepsionis tersebut akan rubuh. Dalam
sesi wawancara bersama reporter LPM Qimah, Aqil memberikan pernyataan bahwa sebelum
plafon ambruk sudah terilihat celah-celah bersambung bersamaan dengan suara
retakan. Menurutnya, kejadian ini seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk
melakukan perhitungan keselamatan bersama dari awal pembangunan mulai dari
anggaran, bahan-bahan yang disiapkan, serta konstruksinya.
Saksi
lain yang juga merupakan mahasiswa Sejarah Peradaban Islam, Royyan Akmal, menambahkan
bahwa ketika dia hendak duduk di anak tangga teras dekat plafon, ia merasakan getaran
lirih dan segera menyingkir sembari menangkap keadaan dan ikut mengambil video untuk
mengabadikan momen tersebut.
Pihak
satpam dan cleaning service yang berjaga disekitar tempat tersebut segera
mengevakuasi puing-puing reruntuhan dan menghimbau para mahasiswa supaya menjauh
dari lokasi kejadian dan mengambil jarak aman. Beberapa saksi lain yang berada
di lokasi kejadian menakutkan tragedi tersebut memengaruhi UKT (Uang Kuliah
Tunggal) mereka hanya untuk biaya perbaikan. Besar harapan agar pihak Fakultas dan
Universitas segera mengambil tindakan tegas untuk segera merenovasi bangunan
tersebut serta melakukan peninjauan ulang infrastruktur sebelum kerusakan
semakin parah dan mencegah adanya korban jiwa yang tidak diinginkan.
Penulis: Rayhan Faza Surya Daffa
Penyunting: Zidan As'ad