Dari Perayaan Kemerdekaan ke Jalanan Berdarah

0
Sumber Gambar: Pinterest

Ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-80 baru saja dirayakan. Namun, pada kamis, 28 Agustus 2025 masyarakat harus turun ke jalan untuk menuntut keadilan sosial di depan Gedung DPR, Jakarta Pusat. Di tengah ramainya teriakan aspirasi mereka, ada sebuah luka baru yang memantik amarah masyarakat. Affan Kurniawan (21), seorang pengemudi ojek online yang tetap bekerja di dalam riuh demonstrasi harus menjadi korban dari kekerasan aparat. Ia meninggal dunia usai dilindas oleh sebuah mobil taktis barakuda milik Brimob.

Dilansir oleh TribunTimur.com, Affan bukanlah salah satu massa demonstrasi. Dia hanya seorang anak muda yang terkena imbas penutupan jalan hari itu. Membuatnya terpaksa harus masuk di dalam barisan demonstran hanya untuk menuntaskan pekerjaanya. Rekaman kamera amatir milik salah satu massa menyebar luas ke segala platform sosial media. Memperlihatkan bagaimana ia berlari menepi kemudian tersandung dan gagal menghindar. Mobil Brimob bahkan sempat berhenti sejenak ketika tubuh Affan setengah terlindas, sebelum kembali tancap gas hingga merenggut nyawanya saat itu juga. Dari akun X milik @salam4jari terekam bahwa beberapa massa yang geram kemudian mengejar mobil milik Brimob tersebut hingga ke luar area demonstrasi.

Kompas.com lewat pemberitaannya menyebutkan bahwa korban kekejaman aparat bukan hanya Affan. Rekan sesama ojek online, Moh. Umar Amirudin, juga turut menjadi korban. Meskipun masih selamat, ia tetap harus menjalani perawatan intensif. Hal ini semakin tragis mengingat kendaraan barakuda sejatinya didesain untuk menghadapi medan berat dan konflik bersenjata. Bukan melaju kencang di jalan raya yang dipenuhi massa sipil. Pemakaman Affan berlangsung haru. Ratusan rekan sesama driver ojek online mengiringi kepergiannya sebagai bentuk solidaritas terakhir.

Banjarmasinpost.co.id menuliskan bahwa terdapat tujuh personel di dalam mobil barakuda yang di tetapkan sebagai tersangka oleh POLRI. Mereka akan dikenai sanksi berupa penempatan khusus (patsus) selama 20 hari. Sayangnya, keputusan ini dianggap terlalu ringan oleh masyarakat. Dikutip dari Kompas.com, foto para tersangka anggota Brimob yang dirilis juga menimbulkan kecurigaan publik karena dinilai bukanlah sosok asli yang berada di balik barakuda berlapis baja penyebab tragedi tersebut. Kecurigaan ini sangat wajar mengingat manipulasi sangat mudah dilakukan dibalik sebuah kekuasaan.

Tragedi ini berhasil memicu gelombang protes yang lebih luas. Tagar #ACAB yang mana adalah singkatan “All Cops Are Bastard” dan #PolisiPembunuhRakyat bergema di berbagai platform media sosial. Tentunya aksi berlanjut pada Jum’at, 29 Agustus 2025 dan meluas ke berbagai daerah, kali ini tidak hanya menyasar gedung DPR, melainkan juga markas Brimob. Di Surabaya sendiri, pada siang hari digelar demonstrasi bertajuk “Aksi Solidaritas: Darurat Kekerasan Aparat” di depan Gedung Grahadi, sebagai bentuk dukungan dan kemarahan rakyat terhadap tragedi yang menimpa Affan. Kerusuhan ini seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Bagi rakyat, ini adalah umpan dan pemantik untuk terus bersuara. Bagi pemerintah, ini adalah ujian yang mempertanyakan. Apakah akan beralih memihak keadilan atau tetap menutup mata?

Penulis: Siti Nur Nazilatul

Editor: Naura Maulika

Tags

Posting Komentar

0Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Situs web kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman anda! Learn More
Accept !